Kembali ke Beranda
Naskah Khutbah Jumat 23 September 2026

ISLAM WASATIYAH: MENJADI UMAT YANG MODERAT, ADIL, DAN MENEBAR RAHMAT

ISLAM WASATIYAH: MENJADI UMAT YANG MODERAT, ADIL, DAN MENEBAR RAHMAT

ISLAM WASATIYAH: MENJADI UMAT YANG MODERAT, ADIL, DAN MENEBAR RAHMAT
Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Ma‘asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan adalah bekal terbaik dalam perjalanan kehidupan kita menuju kehidupan akhirat.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Islam adalah agama yang mengajarkan keseimbangan. Islam tidak mengajarkan sikap berlebihan, tetapi juga tidak mengajarkan sikap meremehkan ajaran agama. Islam mengajarkan kita untuk berada di jalan wasathiyah—jalan tengah yang adil, seimbang, bijaksana, dan penuh kemaslahatan.

Allah SWT berfirman:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

"Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu umat yang pertengahan agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas kamu."
(QS. Al-Baqarah: 143)

Ayat ini memperkenalkan sebuah konsep penting: ummatan wasathan.

Wasathiyah bukan berarti mencampuradukkan antara yang benar dan yang salah. Bukan pula berarti mengurangi prinsip-prinsip agama demi mengikuti keadaan zaman.

Wasathiyah berarti teguh dalam prinsip, tetapi bijaksana dalam cara.

Kita tetap berpegang kepada Al-Qur'an dan Sunnah, tetapi dalam kehidupan sosial kita mampu menghargai perbedaan, menjaga keadilan, menghindari kekerasan, dan mengedepankan kemaslahatan.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Ada setidaknya empat ciri Islam Wasathiyah yang perlu kita hadirkan dalam kehidupan.

Pertama: Tawassuth — mengambil jalan tengah

Seorang Muslim tidak mudah bersikap ekstrem.

Dalam ibadah kita tidak meremehkan agama, tetapi juga tidak berlebihan sampai mengabaikan kewajiban kehidupan lainnya.

Dalam kehidupan dunia, kita bekerja dan mencari rezeki. Tetapi jangan sampai pekerjaan membuat kita meninggalkan salat.

Kita mengejar kesuksesan dunia, tetapi jangan sampai melupakan akhirat.

Allah mengingatkan:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia."
(QS. Al-Qashash: 77)

Inilah keseimbangan.

Dunia tidak ditinggalkan, akhirat tidak dilupakan.

Kedua: Tawazun — menjaga keseimbangan

Islam mengajarkan keseimbangan antara hubungan kita dengan Allah dan hubungan kita dengan sesama manusia.

Kita rajin beribadah, tetapi jangan sampai mudah menyakiti tetangga.

Kita rajin membaca Al-Qur'an, tetapi jangan sampai lisan kita digunakan untuk menghina orang lain.

Kita rajin berdzikir, tetapi jangan sampai tangan kita digunakan untuk melakukan kezaliman.

Karena kesalehan dalam Islam bukan hanya kesalehan individual, tetapi juga kesalehan sosial.

Semakin dekat seseorang kepada Allah, seharusnya semakin baik pula akhlaknya kepada manusia.

Ketiga: I'tidal — berlaku adil

Jamaah yang dirahmati Allah,

Wasathiyah juga berarti keadilan.

Adil bukan berarti membela orang yang kita sukai dan menyalahkan orang yang kita benci.

Allah berfirman:

اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

"Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa."
(QS. Al-Ma'idah: 8)

Hari ini kita hidup di tengah masyarakat yang penuh perbedaan.

Berbeda organisasi, berbeda pilihan, berbeda latar belakang pendidikan, berbeda profesi, bahkan terkadang berbeda pandangan dalam persoalan keagamaan.

Perbedaan tidak boleh membuat kita kehilangan persaudaraan.

Jangan karena berbeda pilihan kemudian kita saling mencaci.

Jangan karena berbeda pendapat kemudian kita memutus silaturahmi.

Jangan karena berbeda organisasi kemudian kita merasa paling benar dan menganggap orang lain tidak memiliki kebaikan.

Kita boleh berbeda pendapat, tetapi tidak boleh kehilangan adab.

Keempat: Tasamuh — menghargai perbedaan

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Islam mengajarkan toleransi dan penghormatan terhadap sesama.

Allah SWT berfirman:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ

"Tidak ada paksaan dalam agama."
(QS. Al-Baqarah: 256)

Tasamuh bukan berarti mengorbankan akidah. Kita tetap meyakini Islam sebagai agama kita dengan teguh.

Namun dalam kehidupan bermasyarakat, kita harus mampu hidup berdampingan secara damai, menghormati sesama, menjaga keamanan, dan tidak melakukan tindakan yang merusak persaudaraan.

Rasulullah ﷺ telah memberikan teladan bagaimana membangun masyarakat yang beradab, saling menghormati, dan menjaga hak sesama.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Di zaman digital seperti sekarang, prinsip wasathiyah menjadi semakin penting.

Setiap hari kita menerima begitu banyak informasi.

Ada berita yang benar, ada yang belum tentu benar.

Ada nasihat yang baik, ada pula provokasi.

Ada perbedaan pendapat yang ilmiah, tetapi ada juga perdebatan yang penuh penghinaan.

Karena itu, seorang Muslim harus memiliki tabayyun.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

"Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya."
(QS. Al-Hujurat: 6)

Jangan semua informasi langsung kita sebarkan.

Jangan semua video langsung kita percaya.

Jangan semua berita langsung kita komentari.

Sebelum jari kita menekan tombol share, tanyakan:

Apakah ini benar? Apakah ini bermanfaat? Apakah ini akan membawa kebaikan atau justru menimbulkan fitnah dan permusuhan?

Inilah salah satu bentuk wasathiyah di era digital.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Islam Wasathiyah pada akhirnya bukan hanya konsep yang kita bicarakan.

Ia harus terlihat dalam kehidupan kita:

Dalam keluarga, kita menjadi orang tua yang bijaksana.

Dalam pendidikan, kita mendidik dengan ilmu dan kasih sayang.

Dalam bermasyarakat, kita menjadi orang yang membawa kedamaian.

Dalam berdakwah, kita menyampaikan kebenaran dengan hikmah.

Dalam menggunakan media sosial, kita menyebarkan informasi yang benar dan bermanfaat.

Dan ketika terjadi perbedaan, kita tidak langsung memusuhi.

Karena seorang Muslim bukan hanya dituntut untuk benar, tetapi juga dituntut untuk berakhlak ketika menyampaikan kebenaran.

Semoga Allah menjadikan kita bagian dari ummatan wasathan, umat yang teguh dalam iman, luas dalam ilmu, baik dalam akhlak, adil dalam bersikap, dan membawa rahmat bagi kehidupan.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Ma‘asyiral Muslimin rahimakumullah,

Sekali lagi marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Mari kita jadikan Islam Wasathiyah sebagai karakter kehidupan kita.

Teguh dalam akidah.
Luas dalam ilmu.
Bijaksana dalam berdakwah.
Adil dalam bersikap.
Santun dalam berbicara.
Damai dalam bermasyarakat.

Jangan mudah terprovokasi.

Jangan mudah menghakimi.

Jangan mudah menyebarkan berita yang belum terbukti.

Dan jangan menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk memutus persaudaraan.

Semoga keluarga kita menjadi keluarga yang penuh ketenangan, masyarakat kita menjadi masyarakat yang damai, pesantren kita menjadi pusat ilmu dan akhlak, dan bangsa kita menjadi bangsa yang kuat karena persaudaraan.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا أُمَّةً وَسَطًا، أُمَّةً عَادِلَةً، أُمَّةً رَاحِمَةً، أُمَّةً مُتَآخِيَةً، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الَّذِينَ يَهْدُونَ بِالْحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُونَ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ شَبَابَنَا، وَأَصْلِحْ أَسَرَنَا، وَاحْفَظْ أَوْلَادَنَا، وَبَارِكْ فِي عُلَمَائِنَا وَGURU-GURU KAMI.

اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيسِيَا، وَاحْفَظْ أَهْلَنَا وَمُجْتَمَعَنَا، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللَّهِ،

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

أَقِمِ الصَّلَاةَ.
Bagikan naskah ini kepada jamaah atau rekan lainnya.