23 Sep 2026
ISLAM DAN TRADISI: MENJAGA WARISAN, MENEGUHKAN NILAI-NILAI ISLAMI
ISLAM DAN TRADISI: MENJAGA WARISAN, MENEGUHKAN NILAI-NILAI ISLAMI
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Pada kesempatan khutbah kali ini, marilah kita merenungkan hubungan antara Islam dan tradisi.
Kita hidup di tengah masyarakat yang kaya akan tradisi. Di berbagai daerah, termasuk di tanah Lombok, kita menemukan begitu banyak tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi: tradisi silaturahmi, gotong royong, menghormati orang tua dan guru, menghadiri majelis ilmu, makan bersama, membantu keluarga yang memiliki hajatan, hingga berbagai tradisi masyarakat yang berkaitan dengan kehidupan sosial dan keagamaan.
Pertanyaannya:
Bagaimana Islam memandang tradisi?
Apakah semua tradisi harus ditinggalkan karena Islam sudah sempurna?
Ataukah semua tradisi boleh dilakukan tanpa batas?
Islam memberikan prinsip yang sangat bijaksana.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Islam datang bukan untuk menghancurkan seluruh kebudayaan manusia.
Islam datang untuk membimbing manusia agar kebudayaan dan tradisi berjalan sesuai dengan nilai-nilai kebaikan.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
"Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa."
(QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat ini menunjukkan bahwa keberagaman manusia adalah bagian dari sunnatullah.
Allah menciptakan manusia dengan berbagai bangsa, suku, bahasa dan kebudayaan.
Karena itu, perbedaan tradisi bukan sesuatu yang harus selalu dipertentangkan.
Yang menjadi ukuran kemuliaan bukanlah suku, budaya, pakaian, daerah atau tradisi seseorang.
Ukuran kemuliaan adalah ketakwaan.
Pertama: Tradisi yang Baik Dapat Menjadi Sarana Kebaikan
Jamaah rahimakumullah,
Dalam khazanah keilmuan Islam dikenal konsep al-'urf, yaitu kebiasaan atau tradisi yang dikenal dan diterima masyarakat.
Dalam kaidah fikih dikenal ungkapan:
الْعَادَةُ مُحَكَّمَةٌ
"Adat kebiasaan dapat menjadi pertimbangan dalam penetapan hukum."
Tentu saja prinsip ini memiliki batasan. Tradisi tidak boleh digunakan untuk membenarkan sesuatu yang secara jelas bertentangan dengan syariat.
Tetapi selama sebuah tradisi mengandung nilai kebaikan dan tidak bertentangan dengan prinsip agama, maka tradisi tersebut dapat menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat.
Misalnya tradisi gotong royong.
Gotong royong bukan sekadar budaya.
Di dalamnya terdapat nilai Islam:
تَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى
"Tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan."
(QS. Al-Ma'idah: 2)
Begitu juga tradisi menghormati orang tua.
Tradisi ini bukan sekadar warisan budaya, tetapi memiliki dasar yang sangat kuat dalam Islam.
Demikian pula silaturahmi, menjenguk orang sakit, membantu tetangga, bermusyawarah dan saling berbagi.
Ketika tradisi mengandung nilai kebaikan, tradisi dapat menjadi jalan untuk menghadirkan nilai Islam dalam kehidupan masyarakat.
Kedua: Tidak Semua Tradisi Harus Dipertahankan
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Islam juga mengajarkan kita untuk kritis terhadap tradisi.
Tidak semua sesuatu yang diwariskan oleh nenek moyang otomatis menjadi sesuatu yang benar.
Allah SWT mengingatkan tentang sikap mengikuti tradisi secara membabi buta:
إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُّهْتَدُونَ
"Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama dan kami hanya mengikuti jejak mereka."
(QS. Az-Zukhruf: 22)
Karena itu, seorang Muslim tidak boleh mengatakan:
"Ini tradisi nenek moyang kita, maka pasti benar."
Tetapi juga tidak tepat mengatakan:
"Ini tradisi masyarakat, maka pasti salah."
Sikap yang benar adalah menilai dengan ilmu.
Apakah tradisi tersebut mengandung kemaslahatan?
Apakah terdapat unsur kemusyrikan?
Apakah mengandung kemaksiatan?
Apakah merugikan orang lain?
Apakah bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat?
Jika terdapat unsur yang bertentangan dengan agama, maka unsur tersebut harus ditinggalkan atau diperbaiki.
Ketiga: Islam Tidak Harus Menghapus Budaya, Tetapi Memberikan Arah
Jamaah yang dirahmati Allah,
Salah satu keindahan sejarah dakwah Islam adalah kemampuan Islam berinteraksi dengan masyarakat dan kebudayaan.
Rasulullah ﷺ berdakwah dengan hikmah.
Allah SWT berfirman:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
"Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik."
(QS. An-Nahl: 125)
Hikmah berarti mengetahui bagaimana menyampaikan kebenaran dengan cara yang tepat.
Karena itu, dakwah tidak cukup hanya dengan mengatakan:
"Ini halal, ini haram."
Tetapi seorang dai juga harus memiliki ilmu, memahami kondisi masyarakat dan mengetahui cara menyampaikan pesan agar kebaikan dapat diterima.
Kita perlu membedakan antara:
ajaran Islam dan ekspresi budaya umat Islam.
Islam adalah wahyu.
Sementara budaya adalah hasil kreativitas manusia.
Keduanya dapat berinteraksi, tetapi tidak boleh dicampuradukkan.
Keempat: Tradisi Harus Menjadi Sarana Memperkuat Silaturahmi
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Tradisi akan menjadi indah ketika membuat manusia semakin dekat.
Tetapi tradisi akan kehilangan maknanya ketika justru membuat manusia saling bermusuhan.
Jangan sampai karena mempertahankan tradisi, kita saling menyalahkan.
Jangan sampai perbedaan praktik sosial dan budaya membuat kita memutus silaturahmi.
Rasulullah ﷺ mengajarkan pentingnya persaudaraan.
Allah SWT berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu."
(QS. Al-Hujurat: 10)
Karena itu, kalau sebuah tradisi mampu memperkuat silaturahmi, gotong royong dan kepedulian sosial, maka kita harus menjadikannya sebagai kekuatan masyarakat.
Tradisi jangan hanya diwariskan bentuknya, tetapi wariskan pula nilai kebaikannya.
Kelima: Menjaga Tradisi di Tengah Generasi Digital
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Hari ini kita menghadapi tantangan baru.
Anak-anak kita tumbuh di era digital.
Mereka mengenal TikTok, Instagram, YouTube, AI dan berbagai budaya global.
Kalau kita tidak mengenalkan tradisi dan nilai-nilai luhur kepada mereka, bukan tidak mungkin mereka mengenal budaya luar lebih banyak daripada mengenal budaya masyarakatnya sendiri.
Karena itu, tugas kita bukan hanya mengatakan:
"Anak-anak muda sekarang tidak peduli tradisi."
Tetapi kita harus bertanya:
Sudahkah kita membuat tradisi menjadi menarik bagi generasi mereka?
Tradisi perlu didokumentasikan.
Tradisi perlu ditulis.
Tradisi perlu diteliti.
Tradisi perlu diceritakan melalui media digital.
Tradisi yang baik perlu dikenalkan kepada generasi muda dengan bahasa yang mereka pahami.
Pesantren, masjid, sekolah, keluarga dan masyarakat memiliki peran penting dalam hal ini.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Islam dan tradisi tidak harus ditempatkan sebagai dua hal yang selalu berlawanan.
Kita dapat menjadi Muslim yang taat sekaligus mencintai budaya dan tradisi yang baik.
Kita dapat menjaga identitas keislaman sekaligus menghargai kekayaan budaya masyarakat.
Kita dapat mempertahankan tradisi tanpa mempertahankan unsur yang bertentangan dengan agama.
Karena yang harus kita wariskan kepada generasi berikutnya bukan sekadar ritual dan bentuk tradisi, tetapi nilai yang ada di baliknya:
gotong royong, silaturahmi, penghormatan kepada guru, penghormatan kepada orang tua, kepedulian terhadap tetangga, kesederhanaan, kebersamaan dan ketakwaan.
Mari kita jadikan tradisi sebagai jembatan, bukan tembok.
Jadikan tradisi sebagai sarana memperkuat persaudaraan, bukan sumber pertengkaran.
Dan jadikan Islam sebagai sumber nilai yang membimbing kehidupan kita agar semakin beradab.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.