Semua Naskah Khutbah Jumat
Temukan seluruh referensi naskah khutbah Jumat pilihan secara lengkap di sini.
ISLAM DAN TRADISI: MENJAGA WARISAN, MENEGUHKAN NILAI-NILAI ISLAMI
ISLAM DAN TRADISI: MENJAGA WARISAN, MENEGUHKAN NILAI-NILAI ISLAMI Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Pada kesempatan khutbah kali ini, marilah kita merenungkan hubungan antara Islam dan tradisi. Kita hidup di tengah masyarakat yang kaya akan tradisi. Di berbagai daerah, termasuk di tanah Lombok, kita menemukan begitu banyak tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi: tradisi silaturahmi, gotong royong, menghormati orang tua dan guru, menghadiri majelis ilmu, makan bersama, membantu keluarga yang memiliki hajatan, hingga berbagai tradisi masyarakat yang berkaitan dengan kehidupan sosial dan keagamaan. Pertanyaannya: Bagaimana Islam memandang tradisi? Apakah semua tradisi harus ditinggalkan karena Islam sudah sempurna? Ataukah semua tradisi boleh dilakukan tanpa batas? Islam memberikan prinsip yang sangat bijaksana. Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, Islam datang bukan untuk menghancurkan seluruh kebudayaan manusia. Islam datang untuk membimbing manusia agar kebudayaan dan tradisi berjalan sesuai dengan nilai-nilai kebaikan. Allah SWT berfirman: يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ "Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat: 13) Ayat ini menunjukkan bahwa keberagaman manusia adalah bagian dari sunnatullah. Allah menciptakan manusia dengan berbagai bangsa, suku, bahasa dan kebudayaan. Karena itu, perbedaan tradisi bukan sesuatu yang harus selalu dipertentangkan. Yang menjadi ukuran kemuliaan bukanlah suku, budaya, pakaian, daerah atau tradisi seseorang. Ukuran kemuliaan adalah ketakwaan. Pertama: Tradisi yang Baik Dapat Menjadi Sarana Kebaikan Jamaah rahimakumullah, Dalam khazanah keilmuan Islam dikenal konsep al-'urf, yaitu kebiasaan atau tradisi yang dikenal dan diterima masyarakat. Dalam kaidah fikih dikenal ungkapan: الْعَادَةُ مُحَكَّمَةٌ "Adat kebiasaan dapat menjadi pertimbangan dalam penetapan hukum." Tentu saja prinsip ini memiliki batasan. Tradisi tidak boleh digunakan untuk membenarkan sesuatu yang secara jelas bertentangan dengan syariat. Tetapi selama sebuah tradisi mengandung nilai kebaikan dan tidak bertentangan dengan prinsip agama, maka tradisi tersebut dapat menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat. Misalnya tradisi gotong royong. Gotong royong bukan sekadar budaya. Di dalamnya terdapat nilai Islam: تَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى "Tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan." (QS. Al-Ma'idah: 2) Begitu juga tradisi menghormati orang tua. Tradisi ini bukan sekadar warisan budaya, tetapi memiliki dasar yang sangat kuat dalam Islam. Demikian pula silaturahmi, menjenguk orang sakit, membantu tetangga, bermusyawarah dan saling berbagi. Ketika tradisi mengandung nilai kebaikan, tradisi dapat menjadi jalan untuk menghadirkan nilai Islam dalam kehidupan masyarakat. Kedua: Tidak Semua Tradisi Harus Dipertahankan Jamaah Jumat rahimakumullah, Islam juga mengajarkan kita untuk kritis terhadap tradisi. Tidak semua sesuatu yang diwariskan oleh nenek moyang otomatis menjadi sesuatu yang benar. Allah SWT mengingatkan tentang sikap mengikuti tradisi secara membabi buta: إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُّهْتَدُونَ "Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama dan kami hanya mengikuti jejak mereka." (QS. Az-Zukhruf: 22) Karena itu, seorang Muslim tidak boleh mengatakan: "Ini tradisi nenek moyang kita, maka pasti benar." Tetapi juga tidak tepat mengatakan: "Ini tradisi masyarakat, maka pasti salah." Sikap yang benar adalah menilai dengan ilmu. Apakah tradisi tersebut mengandung kemaslahatan? Apakah terdapat unsur kemusyrikan? Apakah mengandung kemaksiatan? Apakah merugikan orang lain? Apakah bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat? Jika terdapat unsur yang bertentangan dengan agama, maka unsur tersebut harus ditinggalkan atau diperbaiki. Ketiga: Islam Tidak Harus Menghapus Budaya, Tetapi Memberikan Arah Jamaah yang dirahmati Allah, Salah satu keindahan sejarah dakwah Islam adalah kemampuan Islam berinteraksi dengan masyarakat dan kebudayaan. Rasulullah ﷺ berdakwah dengan hikmah. Allah SWT berfirman: ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ "Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik." (QS. An-Nahl: 125) Hikmah berarti mengetahui bagaimana menyampaikan kebenaran dengan cara yang tepat. Karena itu, dakwah tidak cukup hanya dengan mengatakan: "Ini halal, ini haram." Tetapi seorang dai juga harus memiliki ilmu, memahami kondisi masyarakat dan mengetahui cara menyampaikan pesan agar kebaikan dapat diterima. Kita perlu membedakan antara: ajaran Islam dan ekspresi budaya umat Islam. Islam adalah wahyu. Sementara budaya adalah hasil kreativitas manusia. Keduanya dapat berinteraksi, tetapi tidak boleh dicampuradukkan. Keempat: Tradisi Harus Menjadi Sarana Memperkuat Silaturahmi Jamaah Jumat rahimakumullah, Tradisi akan menjadi indah ketika membuat manusia semakin dekat. Tetapi tradisi akan kehilangan maknanya ketika justru membuat manusia saling bermusuhan. Jangan sampai karena mempertahankan tradisi, kita saling menyalahkan. Jangan sampai perbedaan praktik sosial dan budaya membuat kita memutus silaturahmi. Rasulullah ﷺ mengajarkan pentingnya persaudaraan. Allah SWT berfirman: إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu." (QS. Al-Hujurat: 10) Karena itu, kalau sebuah tradisi mampu memperkuat silaturahmi, gotong royong dan kepedulian sosial, maka kita harus menjadikannya sebagai kekuatan masyarakat. Tradisi jangan hanya diwariskan bentuknya, tetapi wariskan pula nilai kebaikannya. Kelima: Menjaga Tradisi di Tengah Generasi Digital Jamaah yang dimuliakan Allah, Hari ini kita menghadapi tantangan baru. Anak-anak kita tumbuh di era digital. Mereka mengenal TikTok, Instagram, YouTube, AI dan berbagai budaya global. Kalau kita tidak mengenalkan tradisi dan nilai-nilai luhur kepada mereka, bukan tidak mungkin mereka mengenal budaya luar lebih banyak daripada mengenal budaya masyarakatnya sendiri. Karena itu, tugas kita bukan hanya mengatakan: "Anak-anak muda sekarang tidak peduli tradisi." Tetapi kita harus bertanya: Sudahkah kita membuat tradisi menjadi menarik bagi generasi mereka? Tradisi perlu didokumentasikan. Tradisi perlu ditulis. Tradisi perlu diteliti. Tradisi perlu diceritakan melalui media digital. Tradisi yang baik perlu dikenalkan kepada generasi muda dengan bahasa yang mereka pahami. Pesantren, masjid, sekolah, keluarga dan masyarakat memiliki peran penting dalam hal ini. Jamaah Jumat rahimakumullah, Islam dan tradisi tidak harus ditempatkan sebagai dua hal yang selalu berlawanan. Kita dapat menjadi Muslim yang taat sekaligus mencintai budaya dan tradisi yang baik. Kita dapat menjaga identitas keislaman sekaligus menghargai kekayaan budaya masyarakat. Kita dapat mempertahankan tradisi tanpa mempertahankan unsur yang bertentangan dengan agama. Karena yang harus kita wariskan kepada generasi berikutnya bukan sekadar ritual dan bentuk tradisi, tetapi nilai yang ada di baliknya: gotong royong, silaturahmi, penghormatan kepada guru, penghormatan kepada orang tua, kepedulian terhadap tetangga, kesederhanaan, kebersamaan dan ketakwaan. Mari kita jadikan tradisi sebagai jembatan, bukan tembok. Jadikan tradisi sebagai sarana memperkuat persaudaraan, bukan sumber pertengkaran. Dan jadikan Islam sebagai sumber nilai yang membimbing kehidupan kita agar semakin beradab. بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
ISLAM WASATIYAH: MENJADI UMAT YANG MODERAT, ADIL, DAN MENEBAR RAHMAT
ISLAM WASATIYAH: MENJADI UMAT YANG MODERAT, ADIL, DAN MENEBAR RAHMAT Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. Ma‘asyiral Muslimin rahimakumullah, Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan adalah bekal terbaik dalam perjalanan kehidupan kita menuju kehidupan akhirat. Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, Islam adalah agama yang mengajarkan keseimbangan. Islam tidak mengajarkan sikap berlebihan, tetapi juga tidak mengajarkan sikap meremehkan ajaran agama. Islam mengajarkan kita untuk berada di jalan wasathiyah—jalan tengah yang adil, seimbang, bijaksana, dan penuh kemaslahatan. Allah SWT berfirman: وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا "Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu umat yang pertengahan agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas kamu." (QS. Al-Baqarah: 143) Ayat ini memperkenalkan sebuah konsep penting: ummatan wasathan. Wasathiyah bukan berarti mencampuradukkan antara yang benar dan yang salah. Bukan pula berarti mengurangi prinsip-prinsip agama demi mengikuti keadaan zaman. Wasathiyah berarti teguh dalam prinsip, tetapi bijaksana dalam cara. Kita tetap berpegang kepada Al-Qur'an dan Sunnah, tetapi dalam kehidupan sosial kita mampu menghargai perbedaan, menjaga keadilan, menghindari kekerasan, dan mengedepankan kemaslahatan. Jamaah Jumat rahimakumullah, Ada setidaknya empat ciri Islam Wasathiyah yang perlu kita hadirkan dalam kehidupan. Pertama: Tawassuth — mengambil jalan tengah Seorang Muslim tidak mudah bersikap ekstrem. Dalam ibadah kita tidak meremehkan agama, tetapi juga tidak berlebihan sampai mengabaikan kewajiban kehidupan lainnya. Dalam kehidupan dunia, kita bekerja dan mencari rezeki. Tetapi jangan sampai pekerjaan membuat kita meninggalkan salat. Kita mengejar kesuksesan dunia, tetapi jangan sampai melupakan akhirat. Allah mengingatkan: وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia." (QS. Al-Qashash: 77) Inilah keseimbangan. Dunia tidak ditinggalkan, akhirat tidak dilupakan. Kedua: Tawazun — menjaga keseimbangan Islam mengajarkan keseimbangan antara hubungan kita dengan Allah dan hubungan kita dengan sesama manusia. Kita rajin beribadah, tetapi jangan sampai mudah menyakiti tetangga. Kita rajin membaca Al-Qur'an, tetapi jangan sampai lisan kita digunakan untuk menghina orang lain. Kita rajin berdzikir, tetapi jangan sampai tangan kita digunakan untuk melakukan kezaliman. Karena kesalehan dalam Islam bukan hanya kesalehan individual, tetapi juga kesalehan sosial. Semakin dekat seseorang kepada Allah, seharusnya semakin baik pula akhlaknya kepada manusia. Ketiga: I'tidal — berlaku adil Jamaah yang dirahmati Allah, Wasathiyah juga berarti keadilan. Adil bukan berarti membela orang yang kita sukai dan menyalahkan orang yang kita benci. Allah berfirman: اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى "Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." (QS. Al-Ma'idah: 8) Hari ini kita hidup di tengah masyarakat yang penuh perbedaan. Berbeda organisasi, berbeda pilihan, berbeda latar belakang pendidikan, berbeda profesi, bahkan terkadang berbeda pandangan dalam persoalan keagamaan. Perbedaan tidak boleh membuat kita kehilangan persaudaraan. Jangan karena berbeda pilihan kemudian kita saling mencaci. Jangan karena berbeda pendapat kemudian kita memutus silaturahmi. Jangan karena berbeda organisasi kemudian kita merasa paling benar dan menganggap orang lain tidak memiliki kebaikan. Kita boleh berbeda pendapat, tetapi tidak boleh kehilangan adab. Keempat: Tasamuh — menghargai perbedaan Jamaah Jumat rahimakumullah, Islam mengajarkan toleransi dan penghormatan terhadap sesama. Allah SWT berfirman: لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ "Tidak ada paksaan dalam agama." (QS. Al-Baqarah: 256) Tasamuh bukan berarti mengorbankan akidah. Kita tetap meyakini Islam sebagai agama kita dengan teguh. Namun dalam kehidupan bermasyarakat, kita harus mampu hidup berdampingan secara damai, menghormati sesama, menjaga keamanan, dan tidak melakukan tindakan yang merusak persaudaraan. Rasulullah ﷺ telah memberikan teladan bagaimana membangun masyarakat yang beradab, saling menghormati, dan menjaga hak sesama. Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, Di zaman digital seperti sekarang, prinsip wasathiyah menjadi semakin penting. Setiap hari kita menerima begitu banyak informasi. Ada berita yang benar, ada yang belum tentu benar. Ada nasihat yang baik, ada pula provokasi. Ada perbedaan pendapat yang ilmiah, tetapi ada juga perdebatan yang penuh penghinaan. Karena itu, seorang Muslim harus memiliki tabayyun. Allah SWT berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا "Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya." (QS. Al-Hujurat: 6) Jangan semua informasi langsung kita sebarkan. Jangan semua video langsung kita percaya. Jangan semua berita langsung kita komentari. Sebelum jari kita menekan tombol share, tanyakan: Apakah ini benar? Apakah ini bermanfaat? Apakah ini akan membawa kebaikan atau justru menimbulkan fitnah dan permusuhan? Inilah salah satu bentuk wasathiyah di era digital. Jamaah Jumat rahimakumullah, Islam Wasathiyah pada akhirnya bukan hanya konsep yang kita bicarakan. Ia harus terlihat dalam kehidupan kita: Dalam keluarga, kita menjadi orang tua yang bijaksana. Dalam pendidikan, kita mendidik dengan ilmu dan kasih sayang. Dalam bermasyarakat, kita menjadi orang yang membawa kedamaian. Dalam berdakwah, kita menyampaikan kebenaran dengan hikmah. Dalam menggunakan media sosial, kita menyebarkan informasi yang benar dan bermanfaat. Dan ketika terjadi perbedaan, kita tidak langsung memusuhi. Karena seorang Muslim bukan hanya dituntut untuk benar, tetapi juga dituntut untuk berakhlak ketika menyampaikan kebenaran. Semoga Allah menjadikan kita bagian dari ummatan wasathan, umat yang teguh dalam iman, luas dalam ilmu, baik dalam akhlak, adil dalam bersikap, dan membawa rahmat bagi kehidupan. بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ. Khutbah Kedua الْحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. Ma‘asyiral Muslimin rahimakumullah, Sekali lagi marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Mari kita jadikan Islam Wasathiyah sebagai karakter kehidupan kita. Teguh dalam akidah. Luas dalam ilmu. Bijaksana dalam berdakwah. Adil dalam bersikap. Santun dalam berbicara. Damai dalam bermasyarakat. Jangan mudah terprovokasi. Jangan mudah menghakimi. Jangan mudah menyebarkan berita yang belum terbukti. Dan jangan menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk memutus persaudaraan. Semoga keluarga kita menjadi keluarga yang penuh ketenangan, masyarakat kita menjadi masyarakat yang damai, pesantren kita menjadi pusat ilmu dan akhlak, dan bangsa kita menjadi bangsa yang kuat karena persaudaraan. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا. اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا أُمَّةً وَسَطًا، أُمَّةً عَادِلَةً، أُمَّةً رَاحِمَةً، أُمَّةً مُتَآخِيَةً، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الَّذِينَ يَهْدُونَ بِالْحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُونَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ شَبَابَنَا، وَأَصْلِحْ أَسَرَنَا، وَاحْفَظْ أَوْلَادَنَا، وَبَارِكْ فِي عُلَمَائِنَا وَGURU-GURU KAMI. اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيسِيَا، وَاحْفَظْ أَهْلَنَا وَمُجْتَمَعَنَا، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ. أَقِمِ الصَّلَاةَ.
Islam dan Menjaga Kesucian dan kebersihan
Islam dan Menjaga Kesucian dan kebersihan (Dr. H. Muhammad Fikri, MA) Khutbah I اَلْحَمْدُ لِلّٰه الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا أَشْهَدُ أَنْ لَاإِلٰهَ إِلَّااللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْد فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Pertama tama Marilah kita bersyukur kepada Allah SWT atas limphan Karunia yang diberikan kepada kita semua sehingga hari ini kita dapat menjalankan kewajiban mingguan kita menjalankan Sholat Jum’at. Dan Di hari yang mulia ini, Khatib juga mengajak dan menyeru kepada diri Khatib pribadi, juga pada jamaah sekalian agar senantiasa menjaga serta meningkatkan takwa kita kepada Allah dengan penuh penghambaan, takwa yang hakiki, yaitu menjauhi segala larangan Allah subhânahu wa ta’âla dan menjalankan perintah-Nya. Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah Kita menyaksikan berbagai musibah dan bencana alam beruntun melanda negeri kita. Banjir bandang merendam permukiman, tanah longsor menimbun rumah-rumah warga, hingga munculnya berbagai wabah penyakit dan pencemaran air bersih. Sering kali kita menyalahkan cuaca ekstrem atau takdir alam semata. Padahal, jika diselidiki lebih jauh, berbagai musibah tersebut dipicu oleh ulah dan perilaku manusia sendiri yang mengabaikan kebersihan dan kelestarian lingkungan. Sampah plastik dibuang sembarangan hingga menyumbat saluran air, sungai dijadikan tempat pembuangan limbah beracun, pekarangan rumah dibiarkan kotor bergenang air menjadi sarang penyakit, hingga hutan ditebang liar tanpa memikirkan dampaknya. Al-Qur'an secara tegas telah memperingatkan kita dalam Surah Ar-Rum ayat 41: ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat ulah tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Begitu pula firman Allah dalam Surah Asy-Syura ayat 30: وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ Artinya: “Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” Ayat-ayat ini menjadi peringatan keras bagi kita semua: Musibah banjir, penyakit, dan bencana lingkungan bukanlah hal yang terjadi tanpa sebab, melainkan buah manis dari ketaatan atau buah pahit dari kelalaian manusia dalam menjaga kebersihan bumi. Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah Lantas, bagaimana Islam memandang Kebersihan dan Kesucian ? Dalam pandangan Islam kebersihan dan Kesucian disebut dengan istilah Thoharoh, namun kebersihan bukan sekadar etika sosial atau pola hidup sehat semata, melainkan bagian inti dari keimanan dan pondasi peribadahan. 1. Kesucian adalah Syarat Utama Diterimanya Ibadah Dalam ibadah shalat, Islam menetapkan bersuci (thaharah) sebagai syarat sahnya shalat. Tubuh, pakaian, dan tempat shalat kita wajib bersih dari najis dan kotoran. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ma'idah ayat 6: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِۗ Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki.” 2. Kebersihan adalah Cermin Keimanan dan Kedekatan dengan Allah Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Abu Malik Al-Asy'ari (Shahih Muslim): الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيمَانِ Artinya: “Kesucian adalah setengah dari keيمanan.” Keimanan seseorang belum sempurna jika ia hanya rajin beribadah ritual tetapi membiarkan dirinya dan lingkungannya kotor. Bahkan, orang yang bersuci dan memelihara kebersihan akan mendapatkan cinta Allah SWT: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ Artinya: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat, dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222). Ayat ini menggabungkan dua dimensi kebersihan: kebersihan rohani (bersih hati dari syirik, dengki, dan sombong lewat tobat) serta kebersihan jasmani (bersih badan, pakaian, tempat tinggal, dan lingkungan dari kotoran). Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah 3. Menjaga Kebersihan Lingkungan adalah Sunnah dan Pencegah Musibah Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam menjaga kebersihan. Beliau rajin mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, memotong kuku, bersiwak, serta mandi. Tidak hanya kebersihan diri, Rasulullah SAW sangat peduli pada kebersihan lingkungan. Beliau secara khusus memerintahkan kita menjaga kebersihan pekarangan rumah dan melarang mengotori tempat-tempat umum atau sumber air. Dalam riwayat Imam At-Thabrani, Rasulullah SAW bersabda: طَهِّرُوا أَفْنِيَتَكُمْ Artinya: “Bersihkanlah pekarangan-pekarangan rumah kalian.” Rasulullah SAW juga melarang kita merusak atau mencemari air yang tenang/mengalir, karena dari sanalah wabah penyakit dan musibah lingkungan bersumber. Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah, Melihat fenomena musibah bencana alam dan penyakit yang marak terjadi saat ini, marilah kita bermuhasabah (introspeksi diri). Jangan biarkan perilaku kita membuang sampah sembarangan, merusak alam, dan mengabaikan kebersihan menjadi pemicu datangnya musibah bagi keluarga dan masyarakat kita, bahkan keabsahan sholat atau ibadah kita sangat bergantung kepada kebersihan dan Kesucian. Jadikan kebersihan sebagai gaya hidup (lifestyle) dan bentuk ibadah kita kepada Allah SWT. Ingatlah kaidah fikih yang sangat terkenal: دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ Artinya: “Mencegah dan menolak kerusakan (seperti banjir dan penyakit) harus lebih diutamakan daripada mengambil kemaslahatan.” Semoga Allah SWT melindungi negeri kita dari segala bencana dan musibah, serta membimbing kita menjadi hamba-hamba-Nya yang senantiasa menyucikan diri dan menjaga kelestarian bumi. بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah II اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ: فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا . اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْن اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ ،اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.